www.pu.go.id,
11 Desember 2007
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PU MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM GLOBAL
Dampak perubahan iklim global, mendorong
para pemangku kebijakan untuk menjadikannya salah satu pertimbangan
dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan pembangunan nasional
diberbagai sektor. Departemen Pekerjaan Umum yang memiliki peran
penting dalam kegiatan pembangunan nasional melakukan upaya dalam
rangka mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
“Sebenarnya mitigasi dan adaptasi yang dilakukan dalam pembangunan
infrastruktur ke-PU-an terhadap terjadinya perubahan iklim global
telah dilakukan jauh sebelumnya. Salah satunya Gerakan Nasional
Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA) yang bekerjasama dengan Departemen
Kehutanan” jelas Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dalam
sambutannya pada seminar yang berkaitan dengan Konferensi Perubahan
Iklim Global di Nusa Dua, Bali, Selasa (11/12).
Menurut
Menteri PU, program yang disusun sudah cukup banyak, tinggal saat
ini bagaimana pelaksanaannya. Departemen PU sendiri telah memiliki
Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Bidang
Pekerjaan Umum.
Bidang
Sumber Daya Air
Strategi mitigasi dilakukan dengan mengelola
tata air pada lahan-lahan gambut guna mengurangi resiko kebakaran
(pengendalian emisi gas rumah kaca), mengkonversi rawa melalui
upaya penstabilan muka air tanah, dan mendukung program penghijauan
DAS kritis dan kawasan hulu sungai.
Strategi
adaptasi dilakukan dengan meningkatkan daya dukung DAS sebagai
daerah resapan air, membangun, mengelola, merehabilitasi bendungan
dam, waduk dan reservoir yang mampu menampung air dalam kapasitas
besar. Selain itu jaringan irigasi termasuk subak akan dilakukan
hal yang sama untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Membangun
atau memelihara bangunan pantai yang ada untuk mencegah abrasi,
erosi pantai dan intrusi air laut. Teknologi irigasi juga akan
dikembangkan untuk intensifikasi pertanian. Mengembangkan disaster
risk management untuk banjir dan longsor. Prasarana dan sarana
pengendalian banjir untuk kota-kota yang rentan terhadap bencana
seperti tanggul maupun saluran atau kanal. Menyelenggarakan kampanye
hemat air.
Bidang
Keciptakaryaan
Strategi mitigasi yang dilakukan dengan
mengembangkan desain bangunan hemat energi, teknologi pengelolaan
sampah yang ramah lingkungan yakni tidak mengemisikan gas-gas
rumah kaca ke atmosfir serta mengembangkan konsep pengelolaan
sampah domestik sesuai prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R).
Strategi
adaptasi pada daerah rawan air dilakukan melalui konservasi air
dengan menangkap air hujan melalui embung atau sumur resapan.
Selain itu dilakukan pengembangan terhadap teknologi alternatif
pengolahan air minum, yang studi neraca air perkotaan dan perdesaan
untuk domestik, industri, mengembangkan desain arsitektural bangunan
yang dapat mengurangi dampak banjir, tahan terhadap ancaman topan/badai/angin
puting beliung serta mengembangkan teknologi reuse dan recycle
untuk pengolahan air limbah domestik dan industri.
Sistem
drainase juga dilakukan pembenahan untuk mengatasi genangan dan
menjadi daerah resapan air. Kawasan permukiman di bantaran sungai
dan lahan-lahan rawan longsor juga akan ditata kembali. Kampanye
kepada masyarakat untuk hemat air dan menodorong masyarakat untuk
mau tinggal di rumah susun sebagai menanggulangi terbatasnya lahan
menjadi bagian dari strategi adaptasi bidang cipta karya.
Bidang
Jalan & Jembatan
Strategi mitigasi yang dilakukan yakni
menghindari pembangunan jalan yang melewati kawasan lindung. Konsep
jaringan transportasi jalan juga terus diperbaiki untuk mengurangi
kemacetan pada kawasan perkotaan sekaligus mengurangi emisi kendaraan
bermotor. Pembangunan jalur pedestrian dan sepeda serta pemanfaatan
lahan damija jalan untuk kebutuhan penghijauan.
Strategi
adaptasi dilakukan dengan membangun dan memelihara bangunan penahan
konstruksi jalan akibat erosi/abrasi. Selain itu pembangunan drainase
jalan yang baik merupakan bagian dari perlindungan fungsi jalan
dari genangan/banjir. Rencana pembangunan jalan & jembatan
dilakukan pada kawasan aman yang tidak rentan terhadap dampak
banjir, kenaikan muak air laut dan bencana iklim lainnya sesuai
rencana tata ruang wilayah.
Bidang
Penataan Ruang
Strategi Mitigasi dilakukan dengan mendorong
tercapainya 30% ruang terbuka hijau dari luas wilayah kota dan
30% dari luas DAS untuk hutan lindung dan kawasan konservasi serta
mengarahkan pembentukan struktur dan pola ruang kawasan perkotaan
yang lebih efisien sehingga terhindar dari urban sprawling.
Strategi
adaptasi dilakukan berupa dukungan kebijakan untuk mengendalikan
terjadinya urbanisasi masif. Mengembangkan zoning regulation sebagai
instrumen pengendalian pemanfaatan ruang, mengendalikan pertumbuhan
kota-kota besar yang rawan krisis energi, air, sanitasi dan rawan
bencana iklim. Mengembangkan instrumen insentif dan disinsentif
untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadaprencana tata ruang.
Disamping itu juga dilakukan kampanye tertib tata ruang serta
mengutamakan kearifan lokal dalam menata ruang pada daerah terisolir
dan tertinggal. (gt)
Pusat
Komunikasi Publik
111207