Kutipan Media

 

www.pu.go.id, 28 Desember 2007
INFRASTRUKTUR TERUS DIPACU GUNA DUKUNG EKONOMI NASIONAL

Infrastruktur bidang pekerjaan umum seperti jalan, jembatan, jaringan irigasi, dan jaringan air bersih dibangun disesuaikan dengan skala prioritas dan ketersediaan dana yang dimiliki pemerintah. Bila kondisi infrastruktur pada setiap daerah berbeda, hal ini disebabkan karena kemampuan pemerintah baru sebatas itu. Namun yang pasti infrastruktur dibangun untuk mendukung perekonomian nasional. Ke depan, Pemerintah akan terus mendorong perekonoomian di seluruh daerah termasuk kawasan Timur Indonesia (KTI).

Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Pekerjaan Umum (Puskompu) Amwazi Idrus mengutarakan hal itu saat menjawab pertanyaan Reporter Radio 68 H Edisi “Warta Daerah” kemarin di ruang kerjanya (27/12).

Menurut Amwazi, baginya sulit untuk menyatakan apakah suatu wilayah Timur (KTI) infrastrukturnya tertinggal dengan wilayah-wilayah lain di tanah air. Pasalnya, kebutuhan setiap wilayah tidak sama. Secara kasat mata harus diakui KTI memang tertinggal dibandingkan kawasan barat dalam pemenuhan infrastrukturnya. Namun kondisi seperti itu masih dinilai sesuai untuk daerah setempat. “Misal saja kondisi jalannya yang belum ideal. Meski demikian kondisinya, toh masih mampu mendorong pergerakkan ekonomi di wilayah itu,” ungkap Kepala Puskompu.

Harus diakui, ketertinggalan itu memang ada. Meski kenyataan tertinggal infrastrukturnya, namun tidaklah sangat jauh. Karena dari sisi kontribusi dukungan terhadap perekonomian dan peningkatan kesejahteraan dinilai cukup berimbang. Amwazi menjelaskan terdapat 3 kelompok wilayah yakni berkembang (Jawa, Sumatera), sedang berkembang ( Kalimantan, Sulawesi dan sebagian Nusat Tenggara), serta daerah belum berkembang (wilayah Timur).

Untuk daerah berkembang pemerintah akan mendorong peran swasta dalam menyediakan infrastrukturnya. Daerah sedang berkembang masih diharapkan peran pemerintah dan swasta. Sedangkan khusus daerah belum berkembang menjadi tanggungjawab pemerintah dalam penyediaan infrastrukturnya.

Dalam UU Otonomi Daerah telah digariskan menyangkut ketentuan pembagian pihak-pihak yang berwenang membangun infrastruktur di suatu daerah. Menurut Amwazi, instansinya hanya akan menangani infrastruktur ke PU an yang berskala nasional misalnya jalan lintas Sumatera, Lintas Kalimantan. Adapun jalan propinsi atau jalan kabupaten merupakan wewenang pemda setempat. Meski demikian, tambah Kepala Puskompu dalam melakukan perencanaan pembangunan suatu jalan pemerintah pusat akan meng-integrasikan dengan program yang dibuat pemerintah daerah.

“Akan sia-sia hasilnya bila jalan utama dibangun, tetapi jalan penghubung dari sentra-sentra penghasil bumi belum tersedia. Ini menyebabkan hasil bumi milik petani membusuk sebelum dipasarkan. Padahal, ada 13 propinsi unggulan dalam hal ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Menyangkut peningkatan anggaran yang dialokasikan Departemen PU tahun 2008 (36,4 T), Kepala Puskompu menyatakan, Departemen PU akan menggunakan dana itu bagi pembangunan infrastruktur misalnya jalan dan jembatan serta jaringan irigasi. Misalnya, untuk 7,2 juta ha jaringan irigasi yang akan dibangun hingga tahun 2009, masih sekitar 300 ribu-an ha yang belum terbangun. Sementara 6,7 juta ha jaringan irigasi yang ada (2005), 1,5 juta ha diantaranya mengalami kerusakan.

“Jadi target yang akan digarap angkanya selalu meningkat, akibat adanya kerusakan,” tegas Amwazi.

Dana sebesar Rp 36,4 triliun tahun 2008 sebagian besar diperuntukkan bagi penanganan jalan. Dari 9 T (2007) yang dialokasikan, ditingkatkan menjadi Rp 17 T riliun pada tahun 2008. Terkait dengan besarnya anggaran serta kesiapan dalam mencegah penyimpangan dana, Departemen PU sejak 2001 telah menerapkan tender proyek melalui website atau e-procurenment.

“Dengan system ini mulai pendaftaran hingga pengumuman pemenang oleh peserta lelang dilakukan via internet. Sehingga penyimpangan bisa sedikit lebih disederhanakan,” ungkap Kepala Puskompu. (Sony)

Pusat Komunikasi Publik

281207




 

 

        Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah 2007