| |
| www.pu.go.id,
1 Juli 2010 |
| 6
KORIDOR UTAMA PENGEMBANGAN JALAN NASIONAL |
| |
| |
Pengembangan
Jalan di Indonesia memiliki 6 koridor utama yang merupakan jalur
potensial dan kompetitif dilihat dari aspek ekonomi, sehingga
akan memberikan suatu manfaat yang cepat. Hal tersebut dikatakan
oleh Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU), Hermanto Dardak di sela-sela
acara Konferensi Regional (Konreg) Ke-11 Wilayah Timur Himpunan
Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) di Nusa Dua, Bali (29/6).
Pulau Jawa merupakan daerah yang paling berpotensi, dapat dikatakan
hampir 80% kegiatan ekonomi berlangsung di daerah ini, seperti
kegiatan ekspor dan impor. Lebih lanjut Wamen PU mengatakan, “Koridor
pertama adalah bagian utara Jawa, khususnya Jakarta – Surabaya.
Di sepanjang jalur ini banyak pusat-pusat pertumbuhan. Sehingga
jaringan jalan perlu |
| difasilitasi.
Kami membangun jalan yang sifatnya lingkar dan radial, yang menghubungkan
jalur pusat dan produksi” ujar Hermanto.
Koridor kedua adalah Timur Sumatera. Kini koridor tersebut semakin
padat, karena berdampingan dengan Selat Malaka yang merupakan
jalur potensial dan paling sibuk kegiatan ekonominya. Jalur yang
paling layak utamanya adalah dari Palembang -Lampung dan ke Bakaheuni.
Kemudian antara Riau-Medan. Di titik Bakaheuni tersebut direncanakan
akan dibangun Jembatan Selat Sunda sekaligus memadukannya untuk
perkembangan kawasan di sekitar daerah tersebut.
Koridor
selanjutnya adalah Selatan Kalimantan, yang lebih kepada pembangunan
jalan nasional yang kini sudah fungsional. Mulai dari Simanggaris
perbatasan, turun ke Samarinda, Banjarmasin, Palangkaraya, sampai
ke Pontianak dan perbatasan Entikong maupun Aru. Jalur ini perlu
ditingkatkan karena akan membentuk jalur dengan Asean Highway,
yaitu ke Kucing dan Kinabalu. |
| Ke-4
adalah koridor Barat Sulawesi. Sekarang sedang dibangun dari Makassar
ke Maros dan Maros ke Pare-Pare, keduanya dibuka untuk 4 lajur.
Hermanto berharap agar daerah tersebut dibangun untuk kawasan
industri, sehingga bisa memberikan manfaat banyak dalam aspek
ekonomi.
Koridor ke-5 adalah meneruskan jalur Pantura Jawa untuk bisa menuju
ke Timur. Mulai dari Bali ke arah NTB dan NTT, dengan lajur intermoda.
“Selain pelayanan jalan, di sini kami melayani dengan pembukaan
lajur menuju bandara yang baru selesai dibangun, yaitu Lombok
Baru dengan membangun akses jalan dari Mataram – Lombok
Baru, maupun dari Lombok Baru ke Kuta di P Lombok.” tuturnya.
|
|
 |
Koridor
terakhir adalah koridor yang menghubungkan Jayapura ke Manokwari.
Selain itu kini sudah tembus jalan dari Manokwari menuju ke Sorong.
Koridor-koridor tersebut direncanakan akan rampung pada tahun
2014, terutama untuk koridor Jawa dan Sumatera. Biaya yang dianggarkan
untuk jalan nasional ini didapat dari dana tambahan pada APBN-P
sebesar 18 Triliun, salah satunya untuk jalan tembus ke Bandara
Lombok Baru. Selain itu dana tersebut juga digunakan untuk preservasi
jalan agar selalu bisa digunakan. Hermanto berharap anggaran untuk
jalan dan jembatan nasional dapat ditingkatkan di tahun depan,
agar sesuai dengan Renstra 5 tahun Kementerian PU.
Direktur
Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Soeroyo Aliemoeso
mengatakan, pertumbuhan kendaraan memang menunjukkan tingkat yang
luar biasa, bila dibandingkan dengan pertumbuhan prasarana jalan.
Oleh karena itu hal ini harus disikapi dengan oleh bidang lain
agar pergerakkan barang dan jasa tidak hanya bertumpu pada angkutan
darat melalui jalan raya, tetapi bagaimana bila arus barang bisa
diangkut dengan kereta api atau kapal laut.
Terjadinya
kerusakan jalan di beberapa titik yang mengganggu kelancaran
arus kendaraan Soeroyo mengatakan, akibat adanya perbaikan jalan
mengakibatkan terjadi kemacetan yang sangat berpengaruh terhadap
bahan bakar, sehingga biaya operasional semakin tinggi. Karena
itu terus dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait
agar dapat menguntungkan semua pihak. Pihaknya berharap agar
sebelum dilakukan perbaikan, diberitahukan lebih dahulu jalan
alternatif agar bisa mengurangi lemacetan. (sr,din)
Pusat
Komunikasi Publik
010710
|
|
|