| Menurut
Djoko Murjanto, secara geografis pembangunan jaringan jalan dikelompokkan
dalam 3 kategori wilayah, yakni : pertama wilayah telah berkembang,
yaitu wilayah yang secara ekonomi telah berkembang, meliputi Jawa,
Bali dan Sumatera. Jaringan jalan di wilayah ini Pantura Jawa,
Lintas Timur Sumatera dan ruas-ruas jalan yang menjadi bagian
dari jaringan Asean maupun Asian highway.
Kedua,
wilayah sedang berkembang yaitu Kalimantan, Sulawesi dan NTB.
Jaringan jalan di wilayah ini relatif masih dalam perkembangan.
Jalan lintas Kalimantan merupakan bagian dari jaringan Asean highway.
Sedangkan lintas SUlawesi dan rencana pengembangan jalan dalam
rangka kerjasama BIMP-EAGA.
Sedangkan
ketiga merupakan wilayah perkembangan baru yaitu Maluku, Papua
dan NTT. Lokasi kegiatan ekonomi menyebar dan terisolasi satu
dengan yang lain. Sehingga prioritas pengembangan diarahkan untuk
jalan-jalan di pusat-pusat pelayanan dengan penghubung transportasi
antar moda. Untuk mencapai keterpaduan sistem transportasi, maka
seluruh moda harus dapat melayani pergerakkan barang secara kontinyu.
Untuk itu perlunya sinergi antar moda, sehingga dapat mewujudkan
biaya trasnportasi yang murah, tutur Djoko Murjanto.
Dalam kesempatan sama Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan
Soeroyo Aliemoeso mengatakan, Kondisi prasarana jalan yang buruk
mengakibatkan terjadinya peningkatan biaya pemeliharaan kendaraan
dan bahar bakar, akhirnya akan memperkecil margin keuntungan pengusaha.
Selain itu lanjut Soeroyo mengatakan, prasarana yang buruk menurut
penelitian Bank Dunia juga memiliki dampak sekunder. Misalnya
kepastian pengiriman barang, dan lamanya waktu tempuh. Ini akan
meningkatkan biaya-biaya lain yang semakin besar.
Soeroyo
mengakui, praktek-praktek yang membahayakan dan mahal, seperti
kelebihan muatan merupakan hal biasa terjadi di seluruh wilayah
Indonesia. Walaupun sudah ada jembatan timbang, tetapi truk-truk
yang melewati tanpa mendapatkan sanksi, karena mereka sudah memberikan
sejumlah uang kepada petugas. Akibat terjadinya kelebihan muatan
yang akan membahayakan keselamatan dan memperparah kerusakan jalan.
Oleh
karena itu diperlukan komitmen semua pihak dalam penanganan muatan
lebih, serta pemberantasan pungutan liar di jalan. Selain itu
Soeroyo berharap ada upaya meminimalkan perbedaan kualitas jalan
antara jalan di Sumatera dan di Jawa dan antara jalan nasional
dan jalan Provinsi/Kabupaten/Kota. Pihaknya juga berupaya mendorong
angkutan barang jarak jauh dapat menggunakan kereta api atau kapal
laut.
Hal
senada disampaikan Dirjen Pembangunan Daerah Kementerian Dalam
Negeri Syamsul Arief Rivai. Kondisi jalan nasional saat ini memprihatinkan.
Sebagian besar umur jalannya sudah habis, dan sudah harus dibongkar
ulang. Ketidaksesuaian volume muatan kendaraan dengan kapasitas
dan daya dukung jalan, toleransi aparat terhadap kelebihan muatan,
saling berkontribusi dalam kerusakan jalan.
Syamsul
Rivai mengatakan, pentingnya infrastruktur jalan dalam pembangunan
ekonomi dan pengembangan wilayah, maka pengelolaan dan pengembangan
jaringan jalan daerah membutuhkan koordinasi yang intensif antara
pemerintah pusat dan daerah. “Koordinasi merupakan salah
satu kata kunci bagi keberhasilan pengelolaan program, tuturnya.
(sr)
Pusat Komunikasi Publik
300610
|